Tapi waktu tetap lah waktu, aku hanya bisa meliat masa lalu
tanpa bisa mengubah apapun
Bagaimana caranya aku melewati lorong waktu
Simple, hanya dengan klik Blog Archieve di samping kanan blog ini, dan pilih tahun mana yang ingin ku kunjungi
2014 menjadi pilihan ku kali ini
Ku liat diriku waktu itu,
masih punya semangat hidup dan pikiran positif
begitu bijak dalam setiap pemikiran
Seorang mahasiswi canggung yang masih bingung harus berbuat apa
selain menulis pemikiran-pemikiran positif dan optimisme walau dalam keadaan bingung dan bimbang dengan apa yang terjadi dengan perasaanya, berusaha untuk tetap sadar dan waras, menghibur diri sendiri yang sedang terpuruk dengan berusaha menulis segalanya dengan perspektif yang berbeda.
Aku ingat, momen aku menulis saat pertama kali membuat blog ini, tentang kenangan nulis diary yang membuatku lebih mengenal diri sendiri, tentang time isn't money ketika aku sadar bahwa waktu adalah hal yang paling berharga yang dipunya manusia, tentang tahun keempat kuliah yang berisi tentang keresahan ku tentang menjadi mahasiswa akhir, juga ketika aku sebenarnya sedang merasakan masa-masa sulit dan menulisnya secara tersirat dalam postingan no pain no gain, tentang lagu simple plan yang padahal mempresentasikan perasaan ku saat itu, dan juga relatable dengan yang ku rasakan sekarang, yahhh welcome to my life. Juga tentang hujan yang selalu membuatku rindu dengan baunya, ketenangannya, memori yang datang bersamanya persis jelas tertulis di postingan tentang hujan, dann terakhir.. aku mencoba mengingatkan diriku sendiri jika aku merasa sangat sedih seperti sekarang, bahwa aku harus tetap menertawakan semua hal yang terjadi, maka tertawalah!
Banyak hal yang ku tulis 5 tahun lalu, begitu pula di postingan tahun sesudahnya yang sebenarnya representasi akan kegalauan perasaan ku, tapi tak pernah sefrontal seperti yang ku tulis akhir-akhir ini, tentang perasaan ku, tentang seseorang, mungkin aku gak sekuat dulu. Aku gak bisa menulis hal lain yang sebenarnya ku maksudkan untuk menyalurkan keresahan ku tentang hubungan pribadi ku.
Dulu aku takut orang tau kelemahan ku.
Tapi sekarang, bodo amat
Aku akan tetap menulis apa yang ku mau
walaupun masih menahan diri
tapi aku perlu mengabadikan momen ini dalam sebuah tulisan
Momen dimana aku merasa sangat terpuruk dan gak berdaya
momen menyedihkan yang membuat ku gak bisa melangkah dan menerima kenyataan
Aku meliat diriku di masa lalu, meliat optimisme dan segala kata-kata bijak yang ku punya,
terima kasih karena sudah mengingatkan
bahwa aku pernah melewati masa-masa sulit yang meskipun berbeda
tapi setidaknya aku sudah berhasil melewatinya
Dan melalu tulisan ini,
aku pun berharap aku di masa depan akan meliat lagi ke titik ini
bahwa aku pernah merasa seburuk dan semenyedihkan ini
tapi mungkin aku di masa depan akan tersenyum meliat aku yang sekarang
sambil bilang 'you did it well,' dan bangga bahwa aku bisa melewati fase ini.. meskipun gak mudah, meskipun banyak air mata, dan meskipun gatau kapan akan sampai pada batasnya..
terima kasih untuk diriku sendiri, untuk tetap berusaha kuat sampai sejauh ini.
Apa cuma aku yang tiap senin bawaannya malesss banget buat kerja, males banget memulai aktifitas, merasa stress.. putus asa.. sedih, kehilangan motivasi gitu, so I just crying on the road. Bayangin deh.. betapa beratnya memulai hari seperti itu.
Ditambah, aku sering susah tidur malamnya. Tadi malam aja baru bisa tidur diatas jam 12an, trus kebangun pukul 3 pagi, tepatnya 3.33 am, kebetulan banget kan angka jamnya bisa samaan gitu. Terus mencoba tidur lagi dengan susah payah, feeling sad... crying... tidur lagi, dan mimpiin seseorang yang pengen dilupain, Ya Tuhan kok gini banget :( Pas kebangun jadi sedih lagi, tapi pengen cepet-cepet tidur lagi biar liat dia lagi di mimpi.. ampunn dah :(
I know, setiap orang at least bakal ngerasain sekali dalam hidup kayak apa yang ku rasakan sekarang, menangis sampai dada terasa sesak gak bisa nafas. Tapi semua ini pasti akan terlewati kan.. dan setiap orang pasti punya batasan. Yang perlu ku lakukan sekarang cuma harus yakin.. yakin kalau aku bisa melewati masa-masa ini, sampai akhirnya sadar kalau Rencana Tuhan lebih baik dari yang ku punya. Perihal merelakan dan mengikhlaskan memang akan jadi pelajaran seumur hidup, dan yang namanya belajar yaa mesti ada proses.
"Inlife, things happen. You may not want them to but they do. Youjust gotta (sic) move on." (Luke Hobbs, Fast & Farious: Hobbs & Shawn)
Kepada orang yang baru patah hati, persilahkan dirimu bersedih
orang-orang punya pandangan yang aneh tentang bersedih
seakan-akan bersedih adalah hal yang tabu
seakan kamu harus buru-buru tertawa setelah hal buruk menimpa,
tapi tidak.
seperti hujan di tepi senja, kamu harus membiarkan setiap sendu yang ada
setiap kematian butuh peratapan
begitu pula cinta yang telah mati
maka lakukanlah apa yang orang patah hati lakukan
menangislah sehingga kamu tidak bisa mendengar suara kamu sendiri,
makan cokelat sebanyak-banyaknya, mandi air hangat hingga jarimu pucat,
pergi ke caffe dengan tatapan nanar, pesan sebuah teh es manis
karena kopi mungkin terlalu pahit untuk diminum disaat seperti ini.
izinkanlah dirimu bersedih, menangislah seakan ini terakhir kalinya kamu dikecewakan seseorang, menangislah seakan kamu lupa caranya berharap.
Kepada orang yang baru patah hati,
setelah kamu bosan bersedih
inilah saatnya kamu mengangkat dirimu kembali
mulai dengan hal yang mudah, kamu bisa coba mulai mengambil gitar dan mengambil nada-nada mayor yang bahagia, ambil piano dan bermain soneta yang indah
atau jika kamu tidak bisa bermain musik, lihatlah dirimu di depan cermin dan bersenandunglah
lalu diantara nada-nada itu, bisikkan pada dirimu sendiri 'Aku pantas untuk bahagia'.
Kepada orang yang baru patah hati,
selalu ada teman untuk menemani kamu
pergilah menemui temanmu, tertawalah sampai lupa waktu, tanyakan kabar teman yang lain, pamerlah tentang keberhasilan mu dibidang-bidang yang kamu suka
Dan jika memungkinkan, nongkronglah sampai kamu diusir dari tempat itu
Emang sih, kenangan terhadap dirinya kadang masih sering mengganggu
tempat yang pernah kalian datangi, tidak akan terasa sama
Tapi percayalah satu hal, semua ini akan berlalu
sama seperti hal lain di dunia, semua hal buruk pasti akan beranjak pergi
hujan pasti akan berganti langit biru, gelap pasti terganti terang
dan luka pasti akan terganti menjadi senyuman tipis di bibirmu
Kepada orang yang baru patah hati, bersabarlah...
karena di setiap gelap ada cahaya kecil
karena di setiap sakit, ada pembelajaran
Karena kamu pantas untuk bahagia kembali.
(Diambil dari puisi di video Raditya Dika yang berjudul 'Kepada orang yang baru patah hati')
Aku pernah liat video ini beberapa tahun lalu, saat masih baru di upload.
Iya, jujur saja.. sekarang aku baru patah hati, hal yang sangat sulit untuk aku katakan kepada siapapun. Agak sedikit malu mungkin, dan benar kata bang Radit kalau kadang kita menganggap bahwa kesedihan adalah hal yang tabu, jadi aku mati-matian menyembunyikannya dan bersikap seolah diriku baik-baik saja, bersembunyi dibalik topeng senyum dan tawa yang dibuat-buat.
Lalu kenapa pada akhirnya ku tulis disini?
Entahlah, rasanya seperti benar-benar muak dengan diriku sendiri.
Muak dengan air mata yang keluar tak kenal tempat dan waktu.
Muak karena aku masih belum bosan bersedih.
Sebenarnya patah hati ini dimulai sejak empat bulan yang lalu, saat aku resmi kehilangan sosoknya. Saat itu aku baru mengenal diriku sendiri. Ternyata, aku bukan orang yang seperti ku pikir selama ini. Sebelumnya ku pikir, aku hanya akan menerima orang yang benar-benar menyukai ku, yang memperlakukan ku dengan baik dan menunjukan jelas perasaannya terhadapku. Orang yang benar-benar terlihat menyukai ku. Ku pikir aku akan baik-baik saja jika semua ku pasrahkan seperti itu. Tapi ternyata aku salah. Aku bukan lah orang yang bisa menerima begitu saja. Ku tanyakan lagi kepada hati ku, kenapa aku menginginkan seseorang itu untuk tetap berada dihidupku, kenapa aku begitu menyukainya? Dan aku tidak dapat menemukan alasannya. Ku pikir karena itu, karena kita gak butuh alasan buat mencin💩 seseorang, dan saat itu aku merasa tau hati ku buat siapa, siapa orang yang ku sayangi tanpa alasan, dan tanpa 'tapi'. Dan selama ini aku gak akan bisa bertahan, menunggu lama kalau gak ada harapan.
Selain itu, aku pun menemukan kenyataan bahwa selama ini, hati ku gak bisa buat orang lain, gimana mungkin bisa aku membuka hati buat orang lain kalau aku cuma punya satu hati dan sudah lama berada digenggamannya. Walaupun aku sudah mencoba mempertimbangkan kemungkinan lain selain dia, walaupun aku mengenal orang yang lebih baik darinya. Hatiku tetap cuma ada satu. Kadang hati memang bekerja tanpa kita sadari, walaupun tindakan kita sudah benar (dalam sudut pandang logika), tapi mungkin memang sudah kodratnya hati dan akal sehat sering bertolak belakang.
Ku putuskan untuk bertahan dengan keyakinan ku, walaupun kemungkinannya kecil sekali. Alasan dia tidak bisa dengan ku adalah jarak. Iya, kondisi jarak kami yang sebenarnya dari awal memang sudah terpisah. Sebelumnya aku juga mempermasalahkan hal itu, tapi setelah ku coba membuka mata dan pikiran ku, jarak hanyalah angka, dan aku rasanya gak mau kalah, aku gak mau menyerah hanya karena keadaan, ku rasa benar-benar gak sebanding jika aku harus kehilangan dia hanya karena kondisi jarak, ku pikir gak masalah ketemu diwaktu-waktu tertentu, daripda gak bisa ketemu sama sekali buat selamanya?
Tapi itu hanya dari sudut pandangku, sedangkan dia tetap tidak bisa. Alternatif solusi lain pun sudah ku ajukan, tapi dia tidak mau mempertimbangkan opsi yang ku buat. Alasannya untuk karir ku sendiri. Well, siapa yang tau gmn kedepannya kan?
Bagiku, ini adalah tentang pilihan hidup. Dimana kita punya kesempatan untuk memilih. Aku merenung, memikirkan apa yang ku punya dalam hidup, sanak saudara... orang tua.. dan mungkin anak nantinya.. semua itu adalah sesuatu yang gak bisa kita pilih. Tuhan memberi kita mereka. Tapi untuk pilihan hidup, ku rasa sangat istimewa jika kita punya hak sepenuhnya untuk memilih dengan siapa kita ingin menjalani hidup. Dan ku pikir, jika aku bisa memilih aku akan memilih dia. Sesimple hanya karena masalah perasaan, mungkin aku terlalu dangkal. Dia bukan orang yang sempurna, tapi aku bisa menerima kekurangannya, ada banyak hal yang gak ku sukai darinya tapi entah kenapa aku masih bisa menerimanya, dan ku pikir itu cin**, itu sesuatu yang gak bisa ku sebutkan tentang rasa. Dan mungkin aja aku gak akan merasakan hal yang sama ke orang lain, mungkin aja nanti aku akan tetap bahagia kalau gak sama dia, tapi ku pikir tetap aja gak akan sama. Ku pikir.
Tapi ternyata dia tidak.
Dia tidak berpikir seperti aku.
Dia tidak memilihku, hanya dengan bilang 'tidak bisa'
Aku tidak tau hatinya. Yang ku tau dia menyerah. Dan aku tidak bisa berjuang sendirian.
Tapi hati ku, masih ditempat yang sama. Aku tidak ingin beranjak pergi. Aku merayakan kesedihan, kesepian, kehilangan... dan hidup dalam paradoks. Aku menikmati kebodohan ku sendiri. Kadang aku curiga, mungkin aku sudah merasa candu dengan rasa sakit, sehingga malah melakukan hal konyol, yaitu masih menunggu walaupun gak ada lagi yang bisa ditunggu.
Waktu berlalu, baru-baru saja kenyataan menamparku, tepat sehari setelah aku bertemu dengannya kembali. Awalnya aku tidak mau bertemu karena itu hanya akan membuat ku lebih berat melepaskannya (lagi), tapi aku kalah... kalah dengan keinginan ku untuk melihatnya, kalah dengan keinginan ku untuk bertemu entah untuk terakhir kali, aku gak peduli, yang ada dipikiran ku hanya, jika ada kesempatan dan semesta mengijinkan kami untuk bertemu, kenapa tidak?
Bahagia bisa sesederhana itu. Cukup dengan melihatnya dan menyadari kalau dia masih di hati ku, dan aku masih ada di hatinya.
Dan sehari kemudian, aku mendengar sesuatu yang benar-benar menyakitkan. Saat mendengar hal itu, aku langsung ngeblank, jujur saja itu adalah hal yang paling tak ingin ku dengar dan ku takutkan selama ini. Aku mengulur waktu untuk menanyakan langsung kepadanya, juga memikirkan keadaannya yang mungkin masih sibuk, bahkan disaat seperti itu aku masih bisa mempertimbangkan keadaannya.
Dan di hari itu, aku tak sabar lagi menunggu, kutanyakan via telepon. Penjelasannya tidak seperti apa yang ku dengar dari orang lain. Dia mengelak dan punya alasan. Penjelasan dan alasannya tak bisa ku terima, ada kenyataan yang tidak bisa ku terima. Setelah itu, dengan perasaan begitu tidak stabil, aku menangis sejadi-jadinya. Dan yang dilakukakannya, malah menaburkan garam diatas luka. Tidak bermaksud mendramatisir atau lebay, tapi sungguh itu yang ku rasakan. Sakit sekali. Aku merasa tidak adil, disepelekan, diabaikan, dan gak dipedulikan, disaat yg bersamaan juga sadar kalau aku bukan siapa-siapanya lagi.
Bukankah aku berhak melindungi diri ku sendiri, tidak ada yang bisa ku lakukan, selain memblok kontaknya. Ku rasa itu bentuk pertahanan diriku yang terakhir.
Kemudian dia berusaha menghubungi dan kami berada di titik terapuh kami masing-masing. Aku bisa merasakannya, selain menanggung rasa sakit ku sendiri, aku juga seperti menaggung rasa sakitnya... kami dua orang manusia yang tak berdaya hanya karena kondisi...
Dan patah hati ku pun dimulai (lagi)
kali ini, aku benar-benar kehilangan harapan.
Patah hati ini terasa nyata sekali, dan itu lah kenapa ku sebut yang terhebat. Karena hingga sekarang, aku masih merasakan kesedihan yang begitu dalam, air mata yang gak kunjung selesai.
Sering aku menyalahkan diri ku sendiri, kadang aku menyalahkan dia dan mulai membencinya. Tapi semakin aku membenci, perasaan ku akan semakin sakit. Dan tangisan ku akan semakin kencang. Seperti halnya bahagia, sedih pun bisa datang karena hal sederhana, yaitu dengan mengingatnya, membayangkan dia sedang bersama orang lain (mungkin), dan sadar bahwa kemungkinan bertemu lagi dengannya semakin jauh.
Seperti puisi diatas, yang bisa ku lakukan sekarang hanyalah menikmati kesedihan sampai aku bosan menangis. Lalu bersabar.. karena badai terbesar sekalipun pasti akan berlalu. Jika diibaratkan buku, ini hanyalah halaman-halaman sulit yang penuh kesedihan.. kalau aku terus membacanya dengan sabar... keadaan akan membaik. Tidak ada yang sia-sia dalam hidup, pun dengan waktu yang telah ku habiskan untuk menunggu orang yang belum tepat. Loving someone isn't a mistake. Never. I won't regret.
So I remember a quotes "If you can love the wrong person that much, just imagine how much you can love the right one?". Ya, I don't know how it will be, about who, when, where...
Perihal
masalah hati, kini dia kembali menjadi milik ku sendiri. Walaupun
bentuknya tidak lagi utuh, perlu waktu untuk pulih. Perlu waktu untuk
sembuh. Dan walaupun aku menulis ini dengan mata yang masih basah, tidak
akan ada hal buruk lain yang akan terjadi... karena yang terburuk
sedang aku lewati.
Bertahanlah, diri ku sayang....
Kalau boleh melow lagi, saat ini aku merasa seperti berada di dalam lagu 'Lost star' di film Begin Again.
Please don't see just a girl caught up in dreams and fantasies Please see me reaching out for someone I can't see Take my hand let's see where we wake up tomorrow Best laid plans sometimes are just a one night stand I'd be damned Cupid's demanding back his arrow So let's get drunk on our tears and
God, tell us the reason youth is wasted on the young It's hunting season and this lambs are on the run Searching for meaning But are we all lost stars, trying to light up the dark?
Who are we? Just a speck of dust within the galaxy? Woe is me, if we're not careful turns into reality Don't you dare let our best memories bring you sorrow Yesterday I saw a lion kiss a deer Turn the page maybe we'll find a brand new ending Where we're dancing in our tears and
God, tell us the reason youth is wasted on the young It's hunting season and this lambs are on the run Searching for meaning But are we all lost stars, trying to light up the dark?
I thought I saw you out there crying I thought I heard you call my name I thought I heard you out there crying Just the same
Malam ini, aku akan memilih melewati malam ini dengan menulis, biasanya sih yang ku lakukan nonton film atau drakor gitu. Dua malam terakhir lembur berturut-turut sih jadi pas pulang udah gak ada waktu buat lanjut nonton. Dan malam ini ku putuskan untuk ngisi blog aja sambil dengerin lagu2 di youtube. Ohya, pas weekend kemaren aku juga nulis sih buat blog ini, tapi di word dulu, karena panjang banget dan belum kelar, dan gak dapat mood nya buat lanjutin. Jadi tulisan itu di keep dulu aja. Sedikit bocoran, tulisan itu merupakan sebuah cerita pribadi yang sangat sensitif buat ku, tapi aku memberanikan diri buat menulisnya, biar gak terus ku pendam sendirian.
Oke lanjut ngomongin yang mau ku tulis sekarang nih, jadi pas bulan Ramadhan kemaren aku garap project video buat perusahaan. Maksudnya, bikin video ucapan selamat lebaran dari perusahaan kami gitu. Itu seharusnya kerjaan sub bidang lain sih, tapi karena kami satu bidang administrasi gitu jadi aku yang diminta garap, dan karena sebelumnya aku juga udah pernah bikin video amatir buat ucapan selamat ulang tahun pas anniversary anak perusahaan alias perusahaan asal ku, eh maksudnya kan aku dari anak perusahaan sedangkan kami ini kerja di perusahaan induk, duhh ribet dahh. pokoknya aku diminta bikin video lagi deh! susah jelasin silsilah keluarga 😂
Karena udah terlanjur ngebahas video yang pertama, lanjutin aja deh. Yang ini cerita pembuatan video pertama di bulan maret, sebelum bulan puasa yaa.
Video pertama itu ucapan anniversary yang dibikin amat sangat dadakan dan super singkat. Senin aku cuti. Pas itu ditelpon orang kantor, diminta bikin video gitu. Untung lah ya pas itu aku cuti jadi bisa bawa kamera dari rumah besoknya. Buat cari-cari inspirasi liat-liat lah aku ke youtube buat nonton video ucapan anniversary perusahaan lain. Well, rata-rata simple aja sih. Ohya sebelum itu, diwaktu yang lama sebelumnya kan aku ditanya tuh pernah bikin video gak, ya ku jawab aja video kayak gimana dulu, klo video amatir mah pernah aja sebatas buat postingan di instagram doang gitu. Trus ku tunjukin deh video pribadi yang pernah ku buat, trus katanya 'iyaa kayak gini juga gak pa pa, video amatir aja, sebatas ucapan selamat gitu..'. Yaa bisa aja sih klo gitu aja kan. Padahal yang ku bikin itu mah videonya ngedit dari HP doang, tp tetep ku iyain aja. Eh tau nya beneran diminta bikinin video.
Dengan berbekal khayalan mau videonya dibikin kayak gimana, hari selasa nya aku mulai ngambil video tuhh. Selasa-rabu-kamis take di beberapa lokasi (perlu ke lapangan juga soalnya). Jadi konsep ku tuh yang ngucapin dari masing-masing bidang perwakilan satu orang, trus SPV dari induk perusahaan, Manajemen pastinya, dan pihak ketiga.
Singkat cerita kamis udah kelar tuh ngumpulin bahan buat videonya. Jumat aku baru belajar ngedit video di Laptop pertama kali. Perlu dicatet yaa, pertama kali. Dan ternyata beda banget sama ngedit video di HP 😭😭😭😭
Pokoknya pas pertama ngutak atik itu aku bego banget dahh. Terus berasa susah bangett karena suaranya aku dubbing buat ngakalin audio dari kamera yang noise banget, gak pake mic soalnya. Jadi ngakalinnya pake audio rekaman HP, untung sih hengpong jadoel yang ku pake iphone jadi suaranya jernih aja pas di dubbing.
Jadi pas masih adaptasi ngedit video via laptop itu, aku menghabiskan waktu 4 jam buat durasi 10 detik doang, bayangkannn kapan jadinya klo gitu terus-terusan 😭
Setelah 4 jam berlalu itu, aku pesimis banget sih, gak yakin bisa bikin videonya dalam dua hari weekend, apalagi seninnya itu video udah harus jadi dan siap ditayangkan di acara anniversary. Aku meragukan kemampuan ku sendiri pas itu, aku mikir berulang kali apa serahin ke teman ku yang lain aja ya (yang ngajarin bikin video), tapi kan ini project udah dipercayakan ke aku, masa aku nyerahin ke orang lain lagi sih. Kalian mungkin bertanya, kenapa gak yang ngajarin bikin video aja yang diminta buat bikin videonya sama orang kantor? Gak tau juga aku wkwkwk temen ku itu basic nya IT soalnya, entah dia pernah atau gak bikin video, tapi pokoknya dia lebih tau dari aku lah urusan applikasi ngedit.
Singkat cerita pas itu emang aku gak yakin, teman ku yang mentorin juga gak yakin klo aku bisa, wkwkwkwk
"menurut kamu, kelar gak nih aku ngerjainnya sampe minggu?" tanya ku
"gak selesai kayaknya..bayangin aja belum ini belum itu bla bla bla" kata temen ku, teman kampret emang bukannya nyemangatin malah matahin semangat 😂
"duhh..."
"pokoknya ntar klo weekend jangan telpon aku nanya macem-macem yaa!"
isssshh, gitu amat dah pokoknya.
Bermodal nekat, aku lanjutin aja bawa pulang.
Seperti biasa jumat itu aku pulang ke rumah di Banjarmasin. Sampai rumah, abis mandi makan dll, aku lanjutin lagi tuh ngedit videonya sampe jam larut malam, samapi kepala ku pusing banget karena kelamaan natap layar laptop, mana lupa bawa kacamata anti radiasi juga, pusing banget pala berbie... alhasil tengah malam itu aku sampe muntah saking peningnya.
Akhirnya ku sudahi aja malam itu, lagian lumayan durasinya dapat beberapa menit, aku udah selesai tahap adaptasi dan gak separah awal ngutak ngatik yang habis 4 jam buat 10 detik doang, wkwkk progress ku cepat dong.
Sabtu pagi, pas bangun aku langsung buka laptop, eh buka mata dulu deng 😅
Lanjutttt ngedit lagiiii...
Ohya pas itu kebetulan bangettt aku dan teman ku, Dhita ada job buat moto resepsi perkawinan hari minggunya. Jadi itu video harus kelar sabtu itu juga sebenarnya, kalau bisa. Aku gak yakin bisa sih, sampeee waktu yang menjawab kaalau ternyata aku bisa.. Sorenya sekitar jam 4an, videonya udah kelarr.. cuma tinggal satu, masukin musik alias backsound. Gampang lah ya kannn. I push my self so hard.
Sore itu aku pergi ke rumah Dhita karena emang aku mau nginap disana, malamnya kami mau ngambil peralatan buat moto, trus biar gampang juga berangkat bareng. FYI, kami baru pertama pinjem flash buat poto serius gitu, yang ada payungnya wkwkwk jadi malamnya sibuk belajar tutorial make itu flash (lupa namanya 😆) Lebih tepatnya Dhita doang sih yang sibuk merakit, dan tes-tes ini itu, aku mahh bantuin jadi modelnya, hahahahaa
Saking sibuknya, aku drop sih sebenernya pas itu, karena kecapekan. Klo capek, kurang tidur gitu, daya tahan tubuh ku menurun, dan akibatnya sakit tenggorokan, batuk-batuk gitu, trus flu dehh. Tapi mau gak mau, tetep lanjut.
Singkat cerita, minggunya kami beraksi jdi tukang poto di acara resepsi. Siangnya kelar. Aku masih lanjut masukin musik ke video, dan ternyata gak semudah dugaan ku, fergusooo... ada teknik 'ducking' namanya, biar backsoundnya bisa mengecil dan membesar pada saat bagian ngomong gitu, dan karena udah di dubbing jadi agak susah gitu aku masukinnya, gak ngerti juga sih pas itu apa masalahnya, pokoknya mesti ku akalin dulu baru bisa. Jadi aku bgerjain nya masih di rumah dhita, pas kami ngumpul siang2 itu sambil ngemil macam-macam. Dan kebiasan buruk ku tuh ya, gak peduli kondisi tubuh lg gak fit, tetepp aja makan minum gak mau pantangan, siang itu aku minum es jus dan gorengannnnn, sedapppp kannn... sedap juga tuuhh batuk ku nambahhh.. mantap tooo... good job riskaa, selalu totalitas bahkan untuk hal tolol 👍
Malamnya setelah kelar urusan, ngembailin alata-alat segala macem, aku balik dong ke rumah. Masih berkutat dengan teknik ducking itu masaaa... singkat cerita, kelar tuh udah ya, eh malah terjadi musibah permisaah.. laptop yang ku pake ketumpahan air!!
Oke sampai sini aku akan melakukan kebiasaan orang Indonesia yanitu mensyukuri apapun yang terjadi seperti, untung videonya sudah ku save. Tapii ini gimana nasib video ku klo laptopnya error?! Ya tetep aja aku panik kannn... aku balik lah si Laptop, aku lap-lap gituuuu... tapi ada yang masuk ke keyboard dan celah-celah kecil buat speaker gitu, dengan kepanikan dan pikiran waras yang tersisa aku punya ide buat ngehairdryer laptopnya... pas udah ku matiin laptopnya ya ku hairdryer aja sampe yakin klo udah kering (sing penting yaqueenn) 😂😂😂😂
Setelah itu aku konsul lah sama temen ku yang ngasih laptop, dia suruh nyalain. Dan pas udah yakin kering baru berani ku nyalain kan, dan alhamdulillahhh... that's hairdyer works! 😆
Singkat cerita yaa,, duh video pertama aja udah melelahkan nyeritain BTS nya. Video pertama ku udah kelar. Seninnya diputar sesuai rencana dan sekali lagi alhamdulillah pada ngasih appresiasi, ada yang bilang seru videonya (mungkin karena ditayangin di layar besar trus yang nonton pada heboh tiap tokoh favoritnya muncul, wkwk dah kayak film aja), jadi keliatan seru, padahal mah ya biasa ajaa.. cuma agak lucu sih endingnya.
Dan, kasarnya sih, gak usah orang lain, aku sendiri maklum kok kalau ada yang uderestimate kemampuan ku ya, tapi ternyata video itu bikin mereka yang awalnya bilang gak yakin hasilnya 'bagus', bilang 'diluar ekspektasi'. Well, I'm so happy at those momment... I know kalau masih banyak kekurangannya, seperti masalah yang paling utama adalah backlight. Aku ngambilnya dalam ruangan, ngebelakangin sumber cahaya, bahkan ada yang udah pake bantuan flash (HP doang sih 😥) tapi tetap gak tertolong. Well aku menerima kok kalau ada kritikan, asalkan kritik yang bener-bener membangun ya, bukan kritik yang menjatuhkan, kurang apresiasi bahkan cenderung merendahkan (karena membandingkan karya ku dengan video Youtube rewind, sungguh perbandingan yang gak adil), ada aja tuh yang kayak gitu, malah dari seseorang di luar sana yang gak tau apa-apa soal prosesnya, dan pedihnya lagi dia adalah orang terdekat ku yang seperti itu. Yah, mungkin dia emang gak tau aja prosesnya gimana, jadi dengan sedikit marah2 aku jelasin klo bikinnya dengan waktu singkat dan kondisinya yaa seperti yang ku ceritain diatas. I push my self so hard, but he did't know that. So why I care about his comment? but that's hurt me so much is, he was the one that I want to tell about my first video creation, about my pride. Dan ternyata tanggapanya... ah sudah lah. Yang penting orang-orang yang disekitarku yang nonton video itu bilang oke kok. Rasanya gak bisa dijelaskan dengan kata-kata saat video selesai diputar, orang-orang tertawa dan bertepuk tangan.. ahh ternyata seindah itu rasanya karya kita diapresiasi, dan sesimple itu menghargai karya orang lain dan membuat kerja kerasnya jadi berarti.
Kalau ada yang belum liat videonya, dan berminat nonton bisa langsung dikepoin kok di youtube, daan bisa langsung nonton dibawah iniiii
Nahh itu dia video pertama ku yang bikinnya sampe muntah-muntah dan gak enak badan wkwkwkwk dasar lemah 😂
Mari kita lanjut ke BTS video kedua, yaitu Video ucapan selamat lebaran.
Jujur, pas diminta bikin video ini tuh, aku gak ada bayangan sama sekali mau dibikinnya kayak gimana, I'm blank, malas mikir, dan gak mood buat ngeshoot. Bahkan aku mau durasinya semenit doang klo bisa wkwkwk
Kali ini waktu ngeshoot nya juga seminggu, tapi udah dikasih tau di dua minggu sebelum libur lebaran, jadi videonya harus udah selesai sebelum libur. Dan dengan bangga aku bilang, bikinnya cuma butuh waktu sehari doang ini mah, karena aku sudah terbiasa pake applikasi editnyaaa.. hohoho malah gak sampe malam, aku bikinnya pas weekend, sabtu sore udah selesai, prestasi (iya lah gak sampe 3 menit kok!) 😆
Nah pada saat bikin video ini, aku sadar klo kreatifitas itu mahal bung!
Karena awalnya aku gak ada ide dan insprirasi sama sekali mau bikinnya gimana. Setelah ku pikir-pikir, kelamaan mikir konsepnya malah gak ada action, jadinya ya aku bikin video dokumentasi aja gitu, kegiatan apa yang kami adakan selama di bulan ramadhan.
Trus pas udah kekumpul beberapa video, baru aku ada bayangan mau bikinnya gimana, pesan yang ingin disampaikan bagaimana kita memaknai bulan ramadhan dengan meningkatkan ibadah gitu, dan kesan yang ingin ditunjukan juga tentang mereka yang jauh dari keluarga walaupun dengan adegan singkat seperti beli tiket mudik, tapi harus sabar baru bisa pulang setelah lebaran karena kena piket. Kemudian aku tulis sebuah narasi tentang bulan ramadhan dan lebaran, iya, harus ada narasi biar video ini bisa lebih bermakna, pikir ku. Well aku bukan orang yang pintar merangkai kata, tapi pas udah nulis ya ngalir aja gitu, jadi lah sebuah narasi. Nah, karena gak mungkin pake suara ku yaa narasinya (gak mungkin karena aku gak pede dan jadinya mungkin bakal worse aja gitu kalau aku yang cadel ini maksain buat masukin suara ku sendiri yang baca narasi), jadi aku minta teman cewek di kerjaan aja buat bacainnya dengan penuh pengayhatan dan sesuai dengan yang aku mau..
Untuk ucapan lebarannya, cukup manajemen yang ngucapin dan setelah konsultasi dengan Pak GM, beliau maunya gimana, dan meliat saran beliau juga inspirisinya ada di youtube, aku bisa mengconvert dalam imajinasi ku dan kemuadian mewujudkannya pada saat pengambilan gambar dan ngedit video.
And thenn.. voila!
Video dengan durasi kurang dari 3 menit berhasil rampung. Dan pada saat ku kirimkan ke manajemen, mereka bener-bener puas sama karya ku, alhamdulillaaah.. seandainya aku bisa terbang mungkin udah nyasar ampe langit ke 7 dahhh saking senengnya diapresiasi segitunya, ehehehehe aku mah gak mau sombong, cuma pamer doang ke teman ku yang ngajarin bikin video dari awal cerita tadi 😂😂😂
Sebelumnya, walaupun aku udah cukup puas dengan hasiln video kedua ini, tapi tetep aja masih ada kekurangannya (pastii lah), FYI pas ngeshoot semua video disini, aku lupa bawa godzilla pod dari rumah, jadinya yaahh kalau jeli pasti keliatan masih kurang smooth ngambilnya. Terutama pas ngambil gambar spanduk takjil gratis tuh.. gemas banget aku. Terus lagi, kali ini dubbing suara nya gak kayak video pertama yang ngerekam bersamaan proses syuting, tapi kali ini ngambilnya dipisah, shooting dullu, baru rekam suara ulang, makanya susah ngepasin suarannya. Karena biar gimana pun kan pasti beda. Alasannya gak bisa ngerekam sambil bikin video ya karena manajemen pake baju koko yang gak ada kantongnya, jadi gak bisa buat naruh HP disana wkwkwkk.. kameraku gak support mic juga soalnya. Satu lagi, semua video aku ambil sendiri, kecuali adegan salaman dan nunjukin cokelat dan kartu yang ada ucapannya, itu aku ngabil videonya dari dokumentasi SDM. Udah gitu aja.
Anyway, jadi ingat cita-cita ku yang pernah mampir, yaitu jadi sutradara, kurang lebih aku ngayalnya seolah aku udah bisa sedikit ngerasain sihh, hihii walaupun jauh banget.. ternyata menyenangkan, apalagi kalau benran yahhh 😆
Akhir kata, karena aing sudah lelah ngetik, kalau ada yang baca tulisan ini dan belum nonton videonya, chek this out ya.. jangan lupa klik subscribe and like 👍!! (hohohoo berasa kek youtuber aku tuuu) 😁
Hai, aku datang…
Terakhir ku lihat postingan ku, ada curhatan yang tersirat disana, ada kegelisahan yang ingin disembunyikan sekaligus diungkapkan secara perlahan. Hari ini ku putuskan, untuk sedikit bercerita, menulis lagi segala yang ku rasakan. Jujur saja, sebelum ini aku selalu ragu untuk menulis, untuk menceritakan tentang apa yang ku rasakan, untuk menceritakan apa yang terjadi. Aku takut menjadi terlalu jujur, karena lewat tulisan, aku selalu menemukan diri ku ingin menunjukan segalanya yang ku punya, segala isi hati secara gamblang. Aku juga takut, akan ada orang yang membaca isi hati ku semudah mereka membaca tulisan ini, walaupun aku gak yakin juga sih siapa yang akan membuka blog ini.
Terus kenapa gak tetap menulis tapi gak usah dipublish aja?
Aku sudah melakukannya. Selama satu tahun terakhir aku menulis, yahh kita sebut aja, Diary. Aku menumpahkan segalanya disana, Diary yang tertutup rapat, menyimpan segala rahasia tentang perasaan ku sejujur-jujurnya. Rasa sedih, senang, bimbang, adakalanya aku menulisnya diiringi air mata. Maaf kalau lebay. Hhh semenjak ada kata ‘lebay’ dan ‘baper’, aku merasa semakin sulit menunjukan apa yang sebenarnya ku rasakan karena takut dibeli dengan dua kata yang bahkan gak ada di kamus besar Bahasa Indonesia itu.
Lanjut soal diary, aku mengisinya dengan sepenuh hati, diwaktu tertentu saat aku membutuhkannya. Tapi perasaan ku masih tersimpan rapat disana. Aku masih menyimpannya sendirian. Diary itu tak lebih dari sarana memindahkan isi hati dan pikiran ku sementara. Tapi dia tetap tertutup. Penuh rahasia. Dan aku tidak merasa telah mengeluarkannya dari dalam diri ku.
Perasaan berbeda saat aku menuangkan isi hati dan pikiran ku ke dalam blog ini, aku merasa disini memberiku lebih banyak ruang untuk mengungkapkan, bukankah sejatinya ‘mengungkapkan’ adalah memberitahu orang lain, menunjukan apa yg tersembunyi dari diri kita untuk keluar, agar tak terlalu sesak disimpan sendirian. Beberapa orang melakukannya dengan curhat kepada teman, atau curhat kepada Tuhan dalam doa, dan sebagian lagi menuliskannya karena lebih nyaman saja. Dan bagi ku, ruang dalam blog ini seperti pensieve milik Albus Dumbledore di Film Harry Potter. Dia menampung isi pikiran dan hati dalam bentuk kenangan. Dapat dilihat oleh siapapun jika masuk ke dalamnya. Sekaligus menjadi pengingat bahwa suatu kenangan telah berlalu. Dan aku berhasil melewatinya.
Seperti yang ku bilang, awalnya aku ragu, jika orang lain membaca ini.. ada ketakutan tentang kejujuran yang akan ku ungkapkan, mungkin akan ada yang merasa terganggu, atau tersinggung maybe, tapi kalau terganggu ya gak usah dibaca aja, kan beres. Ada rasa takut juga jika ada orang yang membaca ini, maka dia akan tau sisi terlemah ku. Akan ada yang tau, perasaan terdalam ku, dan tentu saja membuat ku terlihat lemah dan menyedihkan. Aku benci itu. Bukan kah orang yang keliatan lemah dan menyedihkan sama sekali tidak menarik, itu lah alasan kenapa kelemahan dan kesedihan jarang diperlihatkan. Karena bagi sebagian orang seperti ku, hal itu adalah sisi buruk yang harus ditutup rapat-rapat. Bukan kah angkuh sekali? Aku lupa bahwa, aku hanyalah manusia biasa. Bahkan manusia super pun di film superhero bisa merasakan kesedihan, dan bisa menjadi lemah. Aku terlalu egois untuk hanya ingin menunjukan kepada dunia bahwa hidup ku selalu bahagia dan ceria, dan sayangnya ada kepura-puraan disana. Sesuatu yang harus aku, kamu, kita, kalian sadari bahwa it’s okay to being not OK.
Heiii kita manusia kan, Tuhan memberikan kita rasa untuk dinikmati. Segalanya saling berdampingan, berlawanan, bergantian hadir untuk kita rasakan. Ada sedih untuk membuat kita mensyukuri kebahagiaan, ada hitam ada putih. Ada tawa, ada tangis. Ada cinta, ada benci. Ada salah, ada maaf. Ada pertemuan, ada perpisahan. Mereka semua saling berlawanan sekaligus berdampingan, tidak bisa kita pisahkan. Mungkin aku bisa memilih untuk hanya menunjukan kebahagiaan saja, ya karena alasan yang ku jelaskan sebelumnya. Tidak ingin terlihat lemah. Dan kadang hal itu juga benar untuk dilakukan karena… well nobody cares about your pain, or about your sad story.. dan itu hanya akan merugikan mu karena telah menunjukan sisi terlemah mu sendiri.
But I don’t need anybody to care right now. Aku melakukan ini, menulis ini, dalam rangka caraku untuk healing diri ku sendiri. Setiap orang punya cara masing masing to heal and deal with their life. Dan ini lah cara ku.
Sebelum kamu, siapa pun kamu, lanjut membaca ini, sedikit peringatan dari ku. This is will be long story. Cukup panjang untuk dijadikan satu postingan saja. Mungkin ceritanya juga akan membosankan. Jadi putuskan dari sekarang, apakah kamu tertarik untuk melanjutkan membaca atau sampai disini saja.
Aku akan menjadi wayang dalam cerita ini, dalam sudut pandang ku, sekuat memori ku mampu mengingat garis-garis penting yang pernah terjadi, sebatas kejujuran yang ingin aku abadikan disini. Aku tidak akan mencoba ‘playing victim’, tapi akan ada banyak kata ‘aku aku aku akuu’ yang akan kamu temukan disini, Karena itu lah.. mungkin akan membosankan.
Suatu masa di bulan yang berkahiran ‘ber-ber’ di 2013
Sebelumnya aku mengenalmu sekedarnya, kamu adalah orang asing. Tidak ada perasaan khusus atau ketertarikan. Biasa saja. Aku melihatmu sama seperti aku meliat orang lain disekitar. Kita bertemu hanya dalam lingkup organisasi dan sesekali bermain poker seperti bocah SD yang bermain2 dengan imajinasi. Kadang kita juga melakukan taruhan-taruhan konyol yang membuat ku kalah dan harus menebus kekalahan ku. Kadang saat waktu makan siang, kita makan bersama dengan yang lainnya. Saat itu aku terasing dalam dunia kampus ku sendiri. Aku lebih banyak menghabiskan waktu dalam organisasi yang sama-sama menaungi kita. Teman ku sangat sedikit di kampus. Entah kenapa saat aku berkumpul dengan teman di organisasi rasanya lebih bebas dan lebih luwes aja. Intinya aku lebih nyaman berteman dengan teman-teman seorganisasi saat itu. Aku menemukan diri ku sendiri.
Awal tahun 2014
Entah bagaimana, kamu datang ke kehidupan ku, tapi kamu selangkah menjadi lebih dekat dari orang lain yang ku kenal. Mungkin dengan cara yang agak konyol. Awalnya aku tidak memikirkan apapun, aku jauh dari peka. Aku takut kegeeran atau kepedean. Dan kamu juga bukan orang yang lugas. Hingga pada suatu malam, hanya lewat pesan chat kamu mengatakan kalau kamu punya perasaan lebih kepada ku. Kamu bilang, aku berhak menanyakan kamu sedang dengan siapa kalau kamu pergi, katamu aku berhak untuk tau tentang mu kalau aku gak mau kehilangan kamu. Malam itu, aku menyadari kalau perasaan ku juga sama. Kamu bilang, aku boleh mengingatkan mu jika kamu salah, dan niscaya kamu akan mau berubah. Well sekarang aku ragu, apa kamu ingat pernah bilang begitu melalu pesan teks?
Kita menjalani hubungan yang dilandasi dengan ‘jalani aja dulu…’. Kamu tau, itu adalah keputusan terbesar yang ku buat, karena sebelumnya aku membangun sebuah dinding besar untuk orang lain masuk ke dalam kehidupan ku, aku selalu mempersulit dan mengarahkan segala amunisi yang ku punya agar dinding pertahananku kokoh, untuk tidak membiarkan hati ku jatuh ke tangan yang salah. Untuk tidak menyakiti diri ku sendiri dengan hubungan semu. Tapi dengan mu, aku membuka kan pintu dan mempersilahkan mu untuk masuk. Sejujurnya gak langsung gitu juga sih, awal-awal menjalani dengan mu aku penuh rasa takut dan was-was, kalau saja kamu hanya main-main dengan perasaan ku. Aku tidak begitu mengenalmu, kamu termasuk orang yang tertutup. Yang ku tau saat itu, saat bersama mu, aku merasakan ada yang lain dalam hati ku, degupnya lebih keras dan seperti ada kupu-kupu dalam perutku. Kamu tau efek kupu-kupu yang pernah kita pelajari di bangku sekolah? Perubahan kecil yang menyebabkan perbedaan besar dan menyebabkan kekacauan di dunia ku, atau lebih tepatnya, dalam perasaan ku. Dunia ku yang tadinya baik-baik saja, seolah menjadi kacau balau. Aku harus beradaptasi dengan kehadiran mu. Dan masalah terbesar ku, aku tidak tau bagaimana harus memperlakukan mu, yang ku tau aku akan melakukan apa yang membuat mu senang. Kamu hanya perlu meminta. Well, aku sudah seperti jin.
Pertengahan 2014
Bagi ku, jatuh cinta dan membiarkan orang lain masuk ke kehidupan ku adalah hal yang merepotkan. Karena dunia ku tidak lagi diisi dengan diriku seorang. Ada orang lain yang terus ku pikirkan, ada orang lain yang bercokol disana. Yang membuat ku secara tidak sadar mengenyampingkan diri ku sendiri. Kadang aku akan menjadi orang yang over thinking. Dan saat itu aku masih sangat sangat gengsi untuk menunjukan perasaan ku. Diam-diam aku takut, aku takut perasaan ku menjadi semakin dalam, dan aku sangat takut untuk jatuh sendirian.
Suatu hari aku berbincang dengan seorang teman pria. Teman satu organisasi yang sama-sama kami kenal. Sebut saja Tapay. Tapay sedikit membuka pemahaman ku tentang laki-laki. Dia bilang, dalam hidup, setiap laki-laki pasti akan mendekati beberapa wanita sekaligus. Dan itu wajar, karena mereka mencari yang terbaik untuk masa depannya. Karena kalau gak mencoba mendekati wanita lain, bagaimana mereka tau apakah wanita itu baik untuknya atau tidak?
Kemudian aku beragumen, ‘berarti kalian egois.’
Dan dia hanya bilang, ‘harusss.. laki-laki harus egois, karena kelak dia yang akan jadi pemimpin rumah tangga. Dia yang akan memilih pendamping hidupnya. Jadi mendekati beberapa wanita gak masalah, asalkan gak ketahuan.’
Aku berusaha berpikir bahwa tidak semua laki-laki seperti Tapay. Tapi kadang, pemikiran itu menghampiriku. Aku berusaha berpikir jernih, tapi hanya berujung dengan jawaban-jawan yang tak seharusnya ada. Alasan kenapa suatu hubungan dijalani secara tertutup alias backstreet apa? Memudahkan laki-laki mendekati wanita lain? Tentu saja itu jawaban yang paling rasional.
Apakah kamu juga begitu?
Kemudian keraguan menyergap ku. Aku menahan diri untuk menunjukan perasaan ku. Aku bersikap sedingin batu es. Aku masih asing dengan perasaan ku sendiri. Dan aku tau, kalau aku tak memberikan perhatian yang cukup untuk mu karena aku lebih sering menghabiskan waktu dengan pikiran-pikiran ku sendiri. Membuat asumsi dan membuat masalah sendiri. Semua di dalam kepalaku. Aku membiarkan mu berusaha sendirian. Aku tidak bisa bersikap manis, atau bersikap manja kepada mu karena aku menahan diiri. Aku terjebak dalam pikiran ku sendiri. Pikiran akan ketakutan, bagaimana nantinya semua ini akan berakhir. Aku takut hanya menjadi satu balon dari beberapa balon yang kau genggam. Atau menjadi layangan yang hanya kau tarik ulur. Atau menjadi cucian belum kering yang selalu digantung.
Suatu hari kamu mungkin sudah lelah berjuang sendiri, kamu bilang kalau ada orang lain yang menyukaimu, yang lebih perhatian dari ku. Tapi saat itu juga kamu bilang kalau kamu tetap ingin dengan ku. Aku tau maksud mu. Aku kurang perhatian. Aku sangat tau itu. Aku bilang aku sadar, karena memang aku sadar kalau aku kurang perhatian, dan di luar sana ada banyak wanita yang lebih dari ku. Dan kamu berhak untuk memilih orang lain yang lebih baik untuk kebahagiaan mu. Mungkin aku salah. Saat itu, aku sangat takut, takut kehilangan kamu. Jadi menurut ku, lebih baik aku melepaskan mu saja, mumpung belum terlalu jauh.
Suatu hari, kebodohan ku membuat kamu kecewa. Aku, dengan sengaja mengabaikan pesan dan telpon mu. Bukan karena tidak ada alasan yang jelas. Aku takut akan hubungan ku dengan mu, aku takut melangkah terlalu jauh, dan aku hanya ingin menjauhimu. Dengan cara yang paling kekanak-kanakan. Seharian, ku simpan henpon ku dibawah tumpukan baju. Tanpa ku cek ada banyak panggilan dari mu. Aku tidak tau niat mu saat itu. Ternyata kamu ingin meminta ku untuk menemanimu berpoto untuk persiapan yudisium. Saat itu kamu belum sidang, proposal mu baru diterima. Dan dengan sikap ku yang kenakan-kanakan itu berhasil membuatmu kecewa ditengah euporia dimana seharusnya kamu senang. Maafkan aku mengacaukan rencanamu.
Kamu tau, aku sangat menyesal waktu itu. Sangat sangat menyesal. Dan kamu sudah terlanjur kecewa dan merasakan sakit hati atas sikap ku. Suatu malam bertepatan dengan hari kemerdekaan, kita betemu dan memutuskan untuk mengakhiri semuanya. Atau lebih tepatnya kamu yang memutuskan, untuk tidak melanjutkan perasaan mu. Kamu bilang perasaan mu hilang karena rasa sakit yang kamu rasakan. Dan kamu tidak ingin merasakan itu lagi. Aku sangat merasa bersalah. Aku sangat ingin menagis. Tapi saat itu mata ku hanya mampu berkaca-kaca. Aku melarangmu untuk pergi, tapi kamu menegaskan untuk kita sudahi. Aku meminta mu untuk tinggal, untuk menjalani lagi hubungan kita dengan normal, tapi kamu bilang kamu gak mau menjalin hubungan pacaran sampai hati mu benar-benar ingin, dan Tuhan membuka hatimu untuk itu. Sedikit kata-kata semangat dari mu, kamu bilang aku yang terbaik. Dan kamu bilang, suatu hari jika Tuhan memberimu petunjuk untuk menjalani lagi suatu hubungan, dimanapun aku berada, maka aku adalah orang pertama yang kamu cari. Entah bagaimana komunikasi mu dengan Tuhan, aku tidak tau. Atau mungkin itu hanya cara mu menghiburku. Sangat mungkin sekali. Malam itu, titik dimana aku merasa dunia ku terasa jungkir balik karena kebodohan ku sendiri. Malam yang gak akan ku lupakan sampai sekarang.
Bulan setelah Agustus 2014
Jika aku tidak salah, awal bulan September, kamu sidang. Aku datang karena kamu meminta ku untuk datang di malam perpisahan kita. Kamu bilang, jika tiba saatnya aku yang sidang maka sejauh apapun kamu pasti akan datang. Perpisahan adalah hal yang paling ku takuti. Aku takut saat kamu sudah lulus, tentu saja hari-hari yang ku lalui tak akan lagi sama, dan mungkin memang lebih baik kita melakukan perpisahan sebelum perpisahan yang sebenar-benarnya terjadi yaitu saat kita tidak bisa bertemu lagi.
Aku mendokan yang terbaik untuk mu.
Tak lama kamu wisuda.
Suatu masa di bulan yang berkahiran ‘ber-ber’ di 2014
Aku sangat sibuk dengan organisasi ku. Saat itu adalah menjelang akhir kepengurusan dan ada diklat yang kami adakan di luar daerah. Semua pikiran dan tenaga terserap kesana. Tapi ditengah-tengah itu, aku masih memikirkan kamu. Kamu masih disini. Di kota yang sama dan di lingkungan yang sama dengan ku. Aku tidak bisa menyelami perasaan mu. Tapi entah kenapa, perasaan ku begitu gelisah. Tapi aku tidak berhak mengkawatirkan mu.
Suatu malam, kita berkumpul dengan teman-teman yang sama. Ada sebuah jokes yang menurut kalian sangat lucu pada saat itu, yaitu perihal memperebutkan wanita cantik. Kamu dan beberapa teman sibuk melemparkan candaan tentang naksir wanita yang sama. Menurut ku itu tidak lucu. Kamu terliht berusaha begitu keras untuk unggul. Aku tau itu hanya bercanda. Tapi sekali lagi, menurut ku itu gak lucu.
Aku pulang lebih awal. Perasaan ku tidak karuan. Dan semakin lama disana, ku rasa aku tidak sanggup. Kamu mungkin sadar dengan gelagat ku, atau tidak sadar sama sekali bahkan. Aku gak tau. Malam itu dalam perjalanan, aku merasakan sakit yang tidak biasa di dalam dada ku. Tepat di dada sebelah kiri ku. Sampai kapan pun, aku pasti tidak akan lupa, karena itu kali pertamanya hatiku merasakan sakit yang begitu nyata. Rasanya benar-benar seperti ditusuk. Sakit sekali. Dan aku sadar, pasti tidak akan sesakit ini jika perasaan ku kepada mu hanyalah perasaan sesaat yang numpang lewat.
Aku lupa, entah malam itu atau keesokan harinya, kamu mengatakan kalau yang kamu lakukan hanyalah bercanda. Tidak secara langsung. Kamu menulis lewat sebuah status. Tapi ketika melihatnya aku merasakan hal itu ditujukan kepada ku. Yah, anggap saja aku keegeran, tapi aku mencoba berpikir positif, bahwa artinya kamu masih peduli dengan perasaan ku. Anggap saja itu permintaan maaf darimu. Selang beberapa waktu, aku melupakan insiden itu, tapi sekeras apapun aku berusaha, bagaimana perasaan ku waktu itu tidak bisa ku lupakan.
Bukan kah itu bukti nyata, bahwa hati ku sudah jatuh terlalu dalam tanpa bisa dipertanggungjawabkan.
Februari 2015
Di hari ulang tahun mu, kita berada di suatu bukit. Perpisahan membayangi lagi. Kali ini karena kau benar-benar akan pergi. Ya, kamu diterima bekerja di suatu daerah yang sangat jauh dari tempat kita bisa bertemu. Saat itu, sebenarnya aku merasakan kesedihan. Tapi seperti biasa, aku memilih untuk menyimpannya rapat-rapat.
Ingatan ku sudah mulai memudar. Seingat ku kita pernah berkomitmen, sebelum kamu pergi. Bahwa kita akan menjaga diri masing-masing. Yang artinya kita akan akan menjalani lagi, entah bagaimana akhirnya nanti. Seingatku, ketika aku bertanya ‘terus kalau ada yang nanya kita punya pacar gak, jawab apa?’, kamu jawab ‘ya bilang aja jomlo, tapi hati kita tetap gak ke lain..’
Aku gak ngerti, tapi logika ku lumpuh. Bagi ku, yang terpenting adalah kalimat terakhir mu.
Pertengahan 2015
Menjalani hubungan jarak jauh dengan penuh ketidakpastian adalah jalan yang sangat sulit untuk ditempuh. Kita seperti berjalan disebuah jembatan yang tidak menghubungkan apa-apa. Bayangkan, hubungan jarak jauh saja sudah berat, ditambah pula ketidakpastian didalamnya.
Kamu begitu sibuk. Sangat jarang menghubungi. Katamu tekanan kerja mu begitu berat. Tidak bisa kah dengan bercerita dengan ku mampu menguranginya? Ya, mungkin tidak.
Perasaan gengsi ku masih ada. Tak jarang, aku hanya menunggu mu menghubungi ku. Karena aku benci jika aku menghubungimu duluan, tapi kamu begitu lamaaa membalas pesan ku. Dan komunikasi kita pun hanya sebentar. Aku tidak tau waktu sibuk mu atau kapan waktu senggang mu. Kamu yang tau, dan kamu yang harusnya meluangkan waktu untuk menghubungi ku. Karena waktu ku akan selalu ada untuk mu. Menurut ku mustahil jika dalam waktu sehari kamu tidak pernah ada waktu untuk menghubungi ku. Tapi begitulah adanya.
Lambat laun komunikasi kita benar-benar jarang. Kamu sibuk dengan duniamu. Dengan teman-teman baru mu. Kamu seperti tidak pernah memikirkan bahwa aku menunggu kabar mu, selalu. Saat itu bulan puasa, kamu bahkan menolak untuk ku bangunkan sahur dengan alasan yang menurut ku tidak masuk akal. Hanya Tuhan yang tau apa yang terjadi sebenarnya padamu.
Aku sangat sedih karena sepertinya kamu bahkan ga ada waktu untuk menanyakan kabarku. Aku memilih menghilang. Ya, cara klasik wanita agar dicari. Seminggu tak ada kabar dari mu, aku masih menunggu. Dua minggu. Tetap sama. Mungkin kamu bahkan gak sadar kalau aku ngilang karena memang kamu gak mau tau. Terakhir ku liat status ter-update mu, kamu sedang senang karena buka puasa bersama teman-teman mu disana. Akhirnya ku putuskan untuk medelete kontak mu dari BBM dan memblok pertemanan di facebook. Hanya itu yang bisa ku lakukan untuk menunjukan rasa sakit hati ku. Kekanak-kanakan sekali mungkin bagi sebagian orang. Aku tidak bisa mngatakan langsung, bahwa aku marah karena kamu gak ada kabar, karena aku kesal liat kamu baik-baik saja bersama orang lain. Sedangkan aku disini menunggu kamu yang sama sekali gak peduli.
Kamu tidak mencari ku. Tidak sama sekali.
September 2015
Tiga bulan berlalu.
Selama itu kita lost kontak. Entah karena ego dan gengsi masing-masing yang begitu tinggi.
Akhirnya aku sidang. Tepatnya tanggal 1 September. Kamu datang. Jujur saja, aku sama sekali gak menduga kehadiran mu saat itu. Bayangkan, ketika sidang sedang berlangsung, tiba-tiba jantung ku memompa darah lebih cepat, sepersekian detik terasa membeku karena keringat dingin yang tadinya sudah tiba diawal sidang tiba-tiba muncul lagi. Aku bahkan bisa mndengar degup jantung ku sendiri. Rasanya benar-benar ingin copot. Seketika aku menjadi gagap. Mungkin menurut kalian ini terlalu lebay, tapi hanya ini yang bisa ku ingat untuk mendeskripsikan perasaan ku pada momen itu. Ada perasaan senang yang membuat ku ingin menangis. Ya, baru pertama kali itu ku rasakan. Sekuat tenaga ku tahan mata ku agar tidak menjebol pertahanan. Beberapa detik selanjutnya aku kembali ke realitas. Ku kumpulkan kesadaran ku sepenuhnya untuk menjawab pertanyaan dosen penguji. Dan semuanya selesai.
Kebahagiaan ku terasa lengkap hari itu. Dan itu sudah cukup untuk meruntuhkan dinding emosi yang selama ini ku pendam sendirian. Tidak banyak yang ku bicarakan dengan mu waktu itu. Hanya sekedar basa basi bahkan. Kita terasa begitu kaku.
Setelah itu kita kembali membuat jarak melalui perpisahan.
Hingga 8 hari kemudian, di hari ulang tahun ku, kamu menghubungi ku pertama kali setelah kita lost kontak, mengucapkan selamat ultah. Disitu kamu bertanya, kenapa aku tiba-tiba menghapus kontak mu. Aku ingin balas tanya, kenapa baru saja kamu bertanya. Tapi ku urungkan. Aku gak ingin membahas sesuatu yang menyakiti ku. Bukan kah aku berhak melindungi perasaan ku sendiri. Jadi aku hanya menjawab kalau saat itu aku benar-benar membencimu. Aku gak tau apakah kamu sadar akan apa yang sudah kamu lakukan, alasan ku membenci mu. Tapi kamu juga tidak ingin membahasnya dan mengatakan kalau sebenci apapun harusnya aku gak sampai mendelete kontak mu. Saat itu aku ingin bernyanyi, ‘mudah sajaaa bagimu, mudah sajaaa untukmuuuu…’ (semoga ini lucu)
Singkat cerita setelah itu, kita kembali menjalin komunikasi, sebagai teman biasa.
November, Desember 2015
Pasca wisuda, kehidupan ku begitu membosankan. Aku mencoba hal-hal baru yang asing bagi ku. Beradaptasi di tempat baru dan bertemu teman baru. Ada pertemuan singkat dengan seseorang yang tertarik kepada ku. Well, bukan seseorang sih, tapi dua orang. Yang satu teman kuliah yang seangkatan dengan ku, dan satu lagi orang yang baru ku kenal ditempat yang baru. Disini ku tegaskan bahwa, perasaan ku sama sekali tidak ada untuk mereka. Tidak sama sekali. Benteng pertahanan ku terlalu kokoh untuk hanya menghadapi ajakan nonton atau jalan-jalan pada saat malam tahun baru. Ya, aku mau nonton sekali. Dan jalan di malam tahun baru sekali tapi itu pun bersama teman-temanku yang lain. Sampai disitu, ku harap bisa dipahami kalau perasaan ku tidak bisa dengan mudah menerima orang baru. Aku tidak suka digombali dengan kata-kata manis. Semakin perhatian, aku akan semakin risih. Semakin berkata manis, maka aku akan semakin muak. Dan aku sama sekali gak segan-segan menunjukannya. Aku menjelma kembali menjadi seorang behati beku yang tidak peduli dengan perasaan orang lain. Aku tidak merasa bersalah untuk itu. Mungkin itu hanya karena mereka bukan orang yang ku inginkan.
Awal tahun 2016
Suatu waktu, entah di mulai darimana kita membahas tentang perasaan. Kamu bertanya ada kah orang lain yang dekat dengan ku, ku jawab gak ada, karena memang begitu. Aku pun bertanya hal yang sudah lama ingin ku tau, yaitu selama kamu jauh disana, apakah kamu dekat dengan orang lain (sehingga kamu seperti terlalu asik dengan dunia mu dan membuat ku merasa dilupakan), kamu juga jawab gak ada dan mengatakan bahwa perasaan mu gak berubah, perasaan mu tetap untuk ku. Aku senang karena akhirnya kita terbuka soal perasaan. Kenapa selama ini begitu sulit bagi kita untuk jujur dan membahas perihal perasaan secara gamblang.
Saat itu aku masih mencoba peruntungan ku untuk melamar beberapa pekerjaan, dan kamu ingin memutuskan untuk resign dari tempat kerja mu. Tapi itu bukan berarti kita bisa kembali sering bertemu. Tetap ada jarak karena kita berasal dari tempat yang berbeda.
Pertengahan tahun 2016
Aku baru diterima bekerja di suatu perusahaan yang bertempat di daerah lain. Bukan di tempat asal ku. Itu artinya kita akan tetap terpisahkan oleh jarak. Kamu sudah resign dari tempat kerja mu. Dan kamu akan kembali ke daerah asal mu, niat mu melakukan pekerjaan yang menjadi salah satu passion dan cita-cita mu. Suatu malam kita membahas tentang cita-cita mu itu. Aku senang hanya dengan mendengarkan bahwa kamu punya mimpi dan berusaha mewujudkannya. Saat itu kamu bilang mungkin itu hanya sebatas khayalan, tapi aku memandangnya sebagai mimpi yang pantas kamu perjuangkan.
Kamu begitu pesimis. Hal itu yang selalu ku sayangkan dari mu. Seandainya kamu tau bahwa pesimistik tidak lebih daripada sikap takabur mendahului nasib. Dan seandainya kamu tau bahwa optimisme bisa membawa mu mengubah segalanya, termasuk mewujudkan mimpi mu. Tapi sayangnya kamu tidak sepahaman dengan ku. Aku tidak suka sifat pesimis mu, kamu suka dan mempertahankannya.
BERSAMBUNG~
Hati manusia itu lemah
disana tersimpan ketakutan, keraguan, kekhawatiran
kadang rasa sedih juga hinggap disana
padahal semua itu sebatas rasa
Rasa yang hanya hinggap diwaktu-waktu tertentu
kemudian berlalu
Apa karena lemahnya hati akan membuat langkah kita berhenti dan menyerah?
padahal kita tidak pernah tau apa yang akan terjadi
tergantung pilihan masing-masing tentunya
Aku sendiri tidak ingin menyerah
tapi masalahnya, hanya aku sendiri
Jadi apapun pilihan yang ku buat, gak akan merubah apapun
yang ku tau, semua ini akan berlalu
Yes, this is just sad chapter
Keep reading..
mungkin akan ada happy ending yang gak bisa ditebak,
karena penulis skenarionya adalah Tuhan yang Maha Baik.
I spending time day by day full
of suffering, but when the time is come, all the plan I made, all the things I
wanna tell him, Every-single-world that I keep for this time, but I don’t have
any courage for do that. I can’t start a chat. I’m afraid if he will ignore me.
I’m afraid afraid and afraid. It’s always happen when I have plan to do / say
something that need many of courage. This shiiit always happen.
I don’t wanna live in wishful
thinking, not anymore.
I have many question for asking
I have many confession that I
want to say.
But where all the courage I have?
I am the type of person who
always waiting
I have enough patient
You know, I think it’s better to
being alone, when I feel so bad
I want to finish this!!!
Aku ingin keluar dari semua ini,
but I lose part of my self.
Masalahnya adalah, aku gak bisa mnghandle
diriku sendiri, aku tau apa yang ku inginkan tapi tidak bisa melakukannya.
Come on Ris, what’s wrong with ‘start
a chat first?’